Minggu, 22 Agustus 2021

Perkembangan Kesusastraan Belanda (Part 27)

 

Cerita Warenar

Disuatu kota di Amsterdam, hidup seorang yang pelit yang bernama Warenar. Suatu ketika Warenar menemukan sebuah pot yang berisi emas dan sejak saat itu ia mencoba menjaga kekayaannya tersebut dari orang lain. Sampai suatu hari, Warenar bertemu dengan tetangganya, Richards. Richards berkata bahwa ia ingin menikahi Klaartje, saudara perempuan Warenar yang sedang hamil. Namun Warenar curiga dan tidak percaya pada Richards. Warenar mengira Richards ingin menikahi Klaartje hanya untuk mengincar hartanya Warenar. Tapi Richards mencoba meyakinkan Warenar bahwa ia tidak ingin harta Warenar, melainkan ia ingin Klaartje.

Berita tentang pernikahan Richards dan Klaartje tersebar luas dan pesta pernikahan diadakan di rumah Warenar. Ketika juru masak Warenar melihat pot yang berisi emas, ia berkata kepada Warenar bahwa pot itu terlalu kecil untuk menjadi wadah makanan. Akhirnya Warenar mengubur pot berisi emas tersebut disebuah kuburan.

Kemudian Richards menemukan harta karun tersebut dan mengambilnya. Sementara itu, saudara perempuan Richards mendengar bahwa anaknya, yaitu Ritsert telah menghamili Klaartje dan ia meminta anaknya si Ritsert untuk menikahi Klaartje. Di satu sisi Warenar marah karena hartanya telah dicuri dan secara kebetulan Ritsert berjalan di sekitar Warenar. Pada saat yang bersamaan Warenar mengira si Ritsert yang telah mencuri hartanya.

Akhirnya Warenar meminta Ritsert mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun Ritsert salah paham, ia mengira bahwa Warenar marah karena menuntut Ritsert untuk bertanggungjawab atas kehamilan Klaartje. Akhirnya kesalahpahaman diantara keduanya pun selesai dan Ritsert berjanji akan menemukan sang pencuri pot emas milik Warenar. Ritsert pun menemukan pot berisi emas tersebut dan memberikannya kepada Warenar sebagai mas kawin untuk menikahi Klaartje.

Auteur: P. C. Hooft

Genre: Toneel non tragedie

Personages: Warenar, Richards, Klaartje, Ritsert, ibu Ritsert (saudara perempuan Richards) dan juru masak.

Share this

0 Comment to "Perkembangan Kesusastraan Belanda (Part 27)"

Posting Komentar